qur'anku...

info dari sponsor...

- P.pw - Shorten urls and 
earn money!

Jumat, 20 Desember 2013

dosa... ketika hatimu tidak tenang akibat amal perbuatan tersebut...

Tanda Diterima Amal...
Siapa yang dapat merasakan buah dari amal ibadatnya di dunia ini, maka itu dapat dijadikan tanda diterimanya amal itu oleh Allah kelak.

Buah dari amal ibadat di dunia ini ialah merasakan lazat manisnya amal itu, sehingga terasa sebagai nikmat yang tidak ada bandingnya. 

Atabah al-Ghulam berkata: “Saya melatih diri sembahyang malam dua puluh tahun, setelah itu baru saya merasakan nikmat bangun malam”.

Tsabit al-Bunany ra. Berkata: “Saya melatih membaca al-Quran dua puluh tahun, setelah itu baru saya merasakan nikmat membaca al-Quran”.

Abu Turaab berkata: “Jika seseorang bersungguh-sungguh dalam niat amalnya, dapat merasakan nikmat amal itu sebelum mengerjakannya, dan apabila ikhlas dalam melakukannya merasakan manisnya amal ketika melakukannya, dan amal yang sedemikian sifatnya, itulah amal yang diterima dengan kurnia Allah”.

Al-Hasan berkata: “Carilah manisnya amal itu pada tiga, maka apabila kamu telah mendapatkannya bergembiralah dan teruskan mencapai tujuanmu, apabila belum kamu dapatnya, ketahuilah bahawa pintu masih tertutup iaitu ketika membaca al-Quran, dan berzikir, dan ketika sujud”.

Ada pula yang menerangkan: dan ketika bersedekah dan ketika bangun malam. Sejak bilakah kau merasakan telah mengenal Allah? Iaitu setiap kali saya akan berbuat pelanggaran terhadap ajaranNya, merasa malu daripadanya… Malukah kita bila berbuat maksiat!!!

>>>
ngaji bareng bolo konco
http://surausmm.blogspot.com

dosa, maksiat dan diterimanya amal perbuatan...

“Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam.
 Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya.

Tahukah Anda sekalian apa akibat yang menimpa diri kita jika kita melakukan maksiat? Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah meneliti tentang hal ini. Menurutnya, ada 22 akibat yang akan menimpa diri kita. Karena itu, renungkahlah, wahai orang-orang yang berakal!

1. Maksiat akan menghalangi diri kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (حُرْماََنُ الْعٍلْمِ)

Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Tapi ketahuilah, kemaksiatandalam hati kita dapat menghalangi dan memadamkan cahaya itu. Suatu ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa. Imam Malik berkata, “Aku melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”

Perhatikan, wahai Saudaraku sekalian, Imam Malik menunjukkan kepada kita bahwa pintu ilmu pengetahuan akan tertutup dari hati kita jika kita melakukan maksiat.

2. Maksiat akan menghalangi Rezeki (حُرْمَانُ الرِزْقِ)

Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad)

Karena itu, wahai Saudaraku sekalian, kita harus meyakini bahwa takwa adalah penyebab yang akan mendatangkan rezeki dan memudahkan rezeki kita. Jika saat ini kita merasakan betapa sulitnya mendapatkan rezeki Allah, maka tinggalkan kemaksiatan! Jangan kita penuhi jiwa kita dengan debu-debu maksiat.

3. Maksiat membuat kita berjarak dengan Allah..

Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah perbuatan dosa itu. Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.”

4. Kita akan punya jarak dengan orang-orang baik.

Semakin banyak dan semakin berat maksiat yang kita lakukan, akan semakin jauh pula jarak kita dengan orang-orang baik. Sungguh jiwa kita akan kesepian. Sunyi. Dan jiwa kita yang gersang tanpa sentuhan orang-orang baik itu, akan berdampak pada hubungan kita dengan keluarga, istri, anak-anak, dan bahkan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan isteriku.”

5. Maksiat membuat sulit semua urusan kita (تَعْسِيْرُ أُمُوْرِهِ)

Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka kemaksiatan akan mempesulit segala urusan pelakunya. Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki dan kebencian makhluk.”

Begitulah, wahai Saudaraku, jika kita gemar bermaksiat, semua urusan kita akan menjadi sulit karena semua makhluk di alam semesta benci pada diri kita. Air yang kita minum tidak ridha kita minum. Makanan yang kita makan tidak suka kita makan. Orang-orang tidak mau berurusan dengan kita karena benci.

6. Maksiat melemahkan hati dan badan (أَنَ المَعاَ صِي تُوْهِن القَلْب َ و الْبَدَنَ)

Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat, maka kuatlah badannya. Tapi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah. Tidak ada kekuatan dalam dirinya.

Wahai Saudaraku, lihatlah bagaimana menyatunya kekuatan fisik dan hati kaum muslimin pada diri generasi pertama. Para sahabat berhasil mengalahkan kekuatan fisik tentara bangsa Persia dan Romawi padahal para sahabat berperang dalam keadaan berpuasa!

7. Kita terhalang untuk taat (حُرْماَن الطاَعَةِ)

Orang yang melakukan dosa dan maksiat cenderung untuk tidak taat. Orang yang berbuat masiat seperti orang yang satu kali makan, tetapi mengalami sakit berkepanjangan. Sakit itu menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik. Begitulah. Jika kita hobi berbuat masiat, kita akan terhalang untuk berbuat taat.

8. Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahan (أنَ المَعاَ صِي تَقْصرُ العُمْرَ وبرَكَتَُهُ) Ini akibat maksiat yang kedelapan. Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Padahal, tidak ada kehidupan kecuali jika hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah, cinta, dan dzikir kepada Allah serta mencari keridhaan-Nya.

Jika usia kita saat ini 40 tahun. Tiga per empatnya kita isi dengan maksiat. Dalam kacamata iman, usia kita tak lebih hanya 10 tahun saja. Yang 30 tahun adalah kesia-siaan dan tidak memberi berkah sedikitpun. Inilah maksud pendeknya umur pelaku maksiat.

Sementara, Imam Nawawi yang hanya diberi usia 30 tahun oleh Allah swt. Usianya begitu panjang. Sebab, hidupnya meski pendek namun berkah. Kitab Riyadhush Shalihin dan Hadits Arbain yang ditulisnya memberinya keberkahan dan usia yang panjang, sebab dibaca oleh manusia dari generasi ke generasi hingga saat ini dan mungkin generasi yang akan datang.

9. Maksiat menumbuhkan maksiat lain (ان المَعاصِي تَزْرَع أَمْثالها) )

Seorang ulama salaf berkata, jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi pelakunya.

Karena itu, hati-hatilah, Saudaraku. Jangan sekali-kali mencoba berbuat maksiat. Kalian akan ketagihan dan tidak bisa lagi berhenti jika sudah jadi kebiasaan!

10. Maksiat mematikan bisikan hati nurani (ضْعِفُ القَلْبَ)

Ini akibat berbuat maksiat yang kesepuluh. Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan.. Dan sebaliknya, akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keinginan hati untuk bertobat. Inilah yang menjadikan penyakit hati paling besar: kita tidak bisa mengendalikan hati kita sendiri. Hati kita menjadi liar mengikuti jejak maksiat ke maksiat yang lain.

11. Jika sudah seperti itu, hati kita akan melihat maksiat begitu indah. Tidak ada keburukan sama sekali ((أَنْ يَنْسَلِخَ مِنَ القَلْبِ إسْتٌقْبَاحُها

Itulah akibat maksiat yang kesebelas. Tidak ada lagi rasa malu ketika berbuat maksiat. Jika orang sudah biasa berbuat maksiat, ia tidak lagi memandang perbuatan itu sebagai sesuatu yang buruk. Tidak ada lagi rasa malu melakukannya. Bahkan, dengan rasa bangga ia menceritakan kepada orang lain dengan detail semua maksiat yang dilakukannya. Dia telah menganggap ringan dosa yang dilakukannya. Padahal dosa itu demikian besar di mata Allah swt.

12. Para pelaku maksiat yang seperti itu akan menjadi para pewaris umat yang pernah diazab Allah swt.

Ini akibat kedua belas yang menimpa pelaku maksiat. ميْراَثٌ عَن ْ أُمَةٍ منَ

الأُمَمِ التِي أهْلَكَهاَ اللهُ Homoseksual adalah maksiat warisan umat nabi Luth a.s. Perbuatan curang dengan mengurangi takaran adalah maksiat peninggalan kaum Syu’aib a.s. Kesombongan di muka bumi dan menciptakan berbagai kerusakan adalah milik Fir’aun dan kaumnya. Sedangkan takabur dan congkak merupakan maksiat warisan kaum Hud a.s.

Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa pelaku maksiat zaman sekarang ini adalah pewaris kaum umat terdahulu yang menjadi musuh Allah swt. Dalam musnad Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongannya.” Na’udzubillahi min dzalik! Semoga kita bukan salah satu dari mereka.

13. Maksiat menimbulkan kehinaan dan mewariskan kehinadinaan ((أن َ الْمَعْصِيةَ

سَبَبٌ لِهَوانِ العَبْد وَسُقُوطُه مِن ْ عَيْنِهِ Kehinaan itu tidak lain adalah akibat perbuatan maksiat kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya. “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al-Hajj:18) . Sedangkan kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan. Karena, kemuliaan itu hanya akan muncul dari ketaatan kepada Allah swt. “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu….” (Al-Faathir: 10). Seorang Salaf pernah berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu; dan janganlah Engkau hina-dinakan aku karena aku bermaksiat kepada-Mu.”

14. Maksiat merusak akal kita اِنَ اْلمَعَاصِي تُفْسِدُ الْعَقْلَ))

Saudaraku yang dimuliakan Allah….

Tidak mungkin akal yang sehat lebih mendahulukan hal-hal yang hina. Ulama salaf berkata, seandainya seseorang itu masih berakal sehat, akal sehatnya itu akan mencegahnya dari kemaksiatan kepada Allah. Dia akan berada dalam genggaman Allah, sementara malaikat menyaksikan, dan nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasihat keimanan. Tidaklah seseorang melakukan maksiat, kecuali akalnya telah hilang!

15. Maksiat menutup hati.

Allah berfirman, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifiin: 14). Imam Hasan mengatakan hal itu sebagai dosa yang berlapis dosa. Ketika dosa dan maksiat telah menumpuk, maka hatinya pun telah tertutup.

16. Pelaku maksiat mendapat laknat Rasulullah saw.

Saudaraku sekalian, Rasulullah saw. melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk jalan, padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR Bukhari); melakukan perbuatan homoseksual (HR Muslim); menyerupai laki-laki bagi wanita dan menyerupai wanita bagi laki-laki; mengadakan praktik suap-manyuap (HR Tarmidzi), dan sebagainya. Karena itu, tinggalkanlah semua itu!

17. Maksiat menghalangi syafaat Rasulullah dan Malaikat.

Kecuali, bagi mereka yang bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus. Allah swt. berfirman, “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman seraya mengucapkan: ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyla-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih d iantara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan.” (Al-Mukmin: 7-9)

18. Maksiat melenyapkan rasa malu.

Padahal, malu adalah pangkal kebajikan. Jika rasa malu telah hilang dari diri kita, hilanglah seluruh kebaikan dari diri kita. Rasulullah bersabda, “Malu itu merupakan kebaikan seluruhnya. Jika kamu tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)

19. Maksiat yang kita lakukan adalah bentuk meremehkan Allah.

Jika kita melakukan maksiat, disadari atau tidak, rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan lenyap dari hati kita. Ketika kita bermaksiat, kita sadari atau tidak, kita telah menganggap remeh adzab Allah. Kita mengacuhkan bahwa Allah Maha Melihat segala perbuatan kita. Sungguh ini kedurhakaan yang luar biasa!

20. Maksiat memalingkan perhatian Allah atas diri kita..

Allah akan membiarkan orang yang terus-menerus berbuat maksiat berteman dengan setan. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyir: 19)

21. Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab.

Allah berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan mu).” (Asy-Syura: 30)

Ali r.a. berkata, “Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena tobat.” Karena itu, bukankah sekarang waktunya bagi kita untuk segera bertobat dan berhenti dari segala maksiat yang kita lakukan?

22. Memalingkan diri kita dari sikap istiqamah.

Kita hidup di dunia ini sebenarnya bagaikan seorang pedagang. Dan pedagang yang cerdik tentu akan menjual barangnya kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga tinggi. Saudaraku, siapakah yang sanggup membeli diri kita dengan harga tinggi selain Allah? Allah-lah yang mampu membeli diri kita dengan bayaran kehidupan surga yang abadi. Jika seseorang menjual dirinya dengan imbalan kehidupan dunia yang fana, sungguh ia telah tertipu!

Renungkan! Renungkan…! Semoga Allah menjaga kita semua dari perbuatan maksiat. Amin.

Muadz bin Jabal radhiallaahu 'anhu, beliau berkata,

"Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam bersabda, 'Telah berfirman Allah Subhanahu wa ta'ala: 'Telah berhaklah cinta-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku, saling bermajelis karena Aku, saling menziarahi karena Aku dan saling berkorban karena Aku'." (al-Muwaththa Imam Malik 2/94)1)



--------------------------------------------------------------------------------------------------------
ngaji bareng bolo konco

>>> @
>>> @
>>> @

maulidul rasul... Muhammad SAW

mengapa menyambut maulidul rasul?

1. Dalil-dalil umum dari Al Quran yang dijadikan hujjah oleh Ulamak yang membenarkan :

فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُ ۥۤ‌ۙ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (١٥٧)

Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad), dan memuliakannya, juga menolongnya, serta mengikut nur (cahaya) yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang berjaya.
(Surah al A’raf 157)

Di dalam ayat ini dengan tegas menyatakan bahawa orang yang memuliakan RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang beruntung. Merayakan maulid Nabi termasuk dalam rangka memuliakannya.

ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيۡتُمُ ٱلزَّڪَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرۡتُمُوهُمۡ وَأَقۡرَضۡتُمُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنً۬ا لَّأُڪَفِّرَنَّ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَلَأُدۡخِلَنَّڪُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ‌ۚ

Bahawa Aku adalah berserta kamu (memerhati segala-galanya). Demi sesungguhnya jika kamu dirikan sembahyang, serta kamu tunaikan zakat dan kamu beriman dengan segala Rasul (utusanKu) dan kamu muliakan mereka dan kamu pinjamkan Allah (dengan sedekah dan berbuat baik pada jalanNya) secara pinjaman yang baik (bukan kerana riak dan mencari keuntungan dunia), sudah tentu Aku akan ampunkan dosa-dosa kamu, dan Aku akan masukkan kamu ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai.
(Surah al Ma’idah ayat 12)

Erti “azzartumuhum” ialah “memuliakan mereka” (Tafsir Tabari, juz VI halaman 151) Orang yang memuliakan Nabi akan dimasukkan ke dalam syurga. Dan menyambut Maulid Nabi adalah dalam rangka memuliakan Nabi.

2. Saya ingin menyemaikan perasaan cinta kepada RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam. Di kala ramai orang yang kini semakin jauh dari perasaan cinta kepada baginda. Bukankah rasuluLlah bersabda begini :

"Belum sempurna iman seseorang dari kamu. kecuali aku lebih dikasihinya berbanding dengan keluarganya, dan hartanya dan manusia keseluruhannya."
(Riwayat Muslim juz 11, hlm 15)

Ahh.. bukankah kita sendiri meraikan ulang tahun kelahiran sendiri ? Ibu dan ayah. Bahkan ada pula golongan yang meraikan kelahiran ‘mujaddid’ mereka sendiri ? Jika kita sendiri pun menyambut hari ulang tahun perkahwinan, hari lahir diri dan juga orang lain. Mengapa kita tidak menyambut hari kelahiran manusia agung yang pengutusannya ke muka bumi ini memberi rahmat kepada sekalian alam ?

Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu berkata kepada Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam :
“Engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri”. Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam berkata : “Tidak, wahai Umar. Sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu berkata, “Demi Allah subahanahu wa ta’ala, engkau sekarang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sekarang wahai Umar.”
(Hadith Riwayat Bukhari, Sohih Bukhari, vol 6 hlmn 2445)

3. Maulidul Rasul itu tidak pernah dibuat oleh RasuluLLah dan ia bid'ah sesat ?

Ada dalil umum bagaimana RasuluLlah sendiri pernah menyebut mengenai hari-hari kebesaran contohnya :


Bahawasanya Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, maka Baginda sallaLLahu ‘alaihi wasallam mendapati di situ orang-orang Yahudi berpuasa pada Hari Asyura iaitu hari 10 Muharram, maka Nabi bertanya kepada orang Yahudi itu: Kenapa kamu berpuasa pada hari Asyura ?

Jawab mereka : ini adalah hari peringatan, pada hari serupa itu dikaramkan Fir’aun dan pada hari itu Musa dibebaskan, kami puasa kerana bersyukur kepada Tuhan. Maka RasuluLlah bersabda : Kami lebih patut menghormati Musa dibanding kamu”
(Hadith riwayat Imam Bukhari dan Muslim).

Banyak sebenarnya perkara yang tidak pernah dibuat oleh RasuluLlah tetapi dilakukan oleh sahabat dan para salafussoleh melalui ijtihad mereka dalam perkara ibadah contoh yang senaraikan oleh bekas Mufti Iraq iaitu Sheikh Abdul Malik Abdul Rahman as Sa’adi :

1. Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam pernah menyamakan (qiyas) hukum menunaikan haji dan berpuasa untuk seorang yang telah mati dengan hutang terhadap hamba ALlah yang ia wajib tunaikan. (Fath al Bari, jld 4, m.s 64)

Walaupun ini tidak dianggap hukum yang telah ditetapkan oleh qiyas tetapi dengan nas, kerana RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam diberi kebenaran untuk mengeluarkan hukum, tetapi ini sebenarnya baginda telah membuka satu peluang atau laluan atau pintu kepada umatnya secara umum akan keharusan menggunakan qiyas. Terutama di dalam persoalan ibadah khusus kerana haji dan puasa adalah di antara bentuk ibadah.

2. Saidina Umar berpendapat bahawa tidak batal puasa seseorang yang berkucup dengan isterinya, kerana mengqiyaskan dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al Baihaqi).

3. Dalam menetapkan satu miqad baru iaitu Zatu Irq bagi jemaah Haji atau Umrah yang datang dari sebelah Iraq, Saidina Umar mengqiyaskannya dengan tempat yang setentang dengannya iaitu Qarn al Manazil. Sedangkan RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam hanya menetapkan empat tempat sahaja sebagai miqat tetapi Saidina Umar menambah satu lagi iaitu Zatu Irq (menjadi lima). (Lihat al Mughni, jld 3, m.s 3 258 dan Fath al Bari m.s 389)

4. Saidina Uthman mewujudkan azan dua kali (pertama dan kedua) pada hari Jumaat diqiyaskan dengan azan 2 kali pada solat subuh dengan alasan bahawa azan yang pertama pada Solat Subuh disyariatkan pada zaman RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam untuk mengejutkan mereka yang sedang tidur, maka begitu juga azan yang pertama pada solat Jumaat untuk mengingatkan mereka yang sedang sibuk berniaga di pasar dan yang bekerja (Nailul al Authar : 3/322)

5. Jumhur ulama mengharuskan dua solat sunat yang bersebab pada waktu yang makruh diqiyaskan dengan solat sunat selepas Zohor yang diqadha' oleh RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam selepas Solat Asar ( Lihat al Nawawi, Syarah sahih Muslim: 6/111)

6. Sebilangan besar pada ulama berpendapat, menyapu tangan sampai ke siku ketika tayammum adalah wajib diqiyaskan dengan membasuh kedua tangan ketika berwudhuk. (Lihat Mughni al Muhtaj:1/99 dan al Mughni: 1/204)

7. Bagi ulama yang berpendapat bahawa solat sunat sebelum Solat Jumaat adalah sunat muakkad mengqiyaskan dengan solat sunat sebelum Zohor. Manakala sebilangan ulama lain di antaranya Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim berpendapat bahaya ia adalah sunat (sunat mutlak bukannya sunat muakkad) mengqiyaskannya dengan solat sunat hari raya yang tidak ada solat sunat (muakkad) sebelum solat tersebut. ((Al Fatawa: 24/194)

8. Sesetengah ulama bermazhab Hanafi mengqiyaskan air yang banyak yang tidak terjejas apabila jatuh najis ke dalamnya dengan air laut dari segi banyaknya. (al Mushili, al Ikhtiyar: 1/14)

9. Para ulama bermazhab Hambali mengharuskan ganti dengan memberi makanan sebagai kaffarat bunuh (yang tidak sengaja), kerana mengqiyaskannya dengan kaffarat zihar dan kaffarat jimak pada siang hari Ramadhan (Al Mughni: 8/97)

10. Menurut Imam Ahmad dalam satu riwayat daripadanya, dibasuh setiap benda yang terkena najis sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan air tanah, kerana beliau mengqiyaskannya dengan sesuatu yang terkena najis anjing atau babi (Al Mughni: 1/54-55)

11. Menurut Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, diwajibkan berdiri sekadar yang termampu bagi sesiapa yang tidak mampu berdiri dengan sempurna ketika solat samada kerana ketakutan atau kerana atap hendak roboh diqiyaskan dengan hukum berdiri seorang yang bongkok. (Al Mughni: 2/144)

12. Imam Malik berpendapat, diharuskan melewatkan solat bagi mereka yang ketiadaan air diqiyaskan dengan seorang perempuan yang kedatangan haid yang diharuskan melewatkan solatnya (al Mughni: 1/250)

13. Imam Abu Hanifah dan Imam asy Syafie berpendapat, sah tayammum bagi seorang yang berhadas besar dengan niat mengangkat hadas kecil diqiyaskan dengan sahnya wudhuk selepas membuang air kecil atau besar (walaupun tanpa niat untuk mengerjakan solat). (Al Mughni: 1/267)

14. Imam Malik membolehkan qadha' solat malam yang terluput, iaitu dikerjakannya selepas terbit fajar sebelum solat Subuh diqiyaskan dengan solat witir. Tetapi ini adalah salah satu pendapat Imam Malik berhubung dengan masalah ini. (al Mughni:2/120)

15. Imam Abu Hanifah, Ath Thauri dan Al Auza'ie membolehkan lewat solat bagi mereka yang tidak menemui air dan tanah sehinggalah menemuinya, kemudian mengqadha'nya diqiyaskan dengan melewatkan puasa bagi wanita yang kedatangan haid (Al Mughni: 1/267)

Ini hanya sebahagian kecil daripada sebilangan besar persoalan ibadah yang dikeluarkan hukumnya berdasarkan kaedah qiyas. Qiyas ini adalah ijtihad dan pandangan. Oleh itu, sesiapa yang melarang menggunakan qiyas di dalam ibadah secara mutlaq, maka pendapatnya tidak dapat diterima sebagaimana yang dinyatakan tadi.

Ibnu Umar radiyaLlahu anhu berpendapat, solat Sunah Dhuha tidak digalakkan di dalam syariat Islam melainkan bagi mereka yang tiba dalam permusafiran. Beliau hanya mengerjakannya ketika tiba di Masjid Quba. Ini diriwayatkan oleh Al Bukhari daripada Mauriq katanya :
"Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar RadiyaLlahu 'anhu." Adakah kamu bersolat Dhuha? Beliau menjawab "Tidak", Aku bertanya lagi "Adakah Umar mengerjakannya?" Beliau menjawab "Tidak". Aku bertanya lagi " Abu Bakar?" Jawabnya: "Tidak" Aku bertanya lagi: "RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam?" Jawabnya "Aku tidak pasti".

Menurut al Hafiz Ibnu Hajar al Asqolani:

"Sebab tawaqqufnya Ibnu Umar pada masalah itu kerana beliau pernah mendengar daripada orang lain bahawa RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam pernah mengerjakannya tetapi beliau tidak begitu mempercayai perkara itu daripada seorang yang menyebut kepadanya.".

Maka, beliau menganggap solat Dhuha adalah di antara bid'ah yang baik sepertimana yang diriwayatkan oleh Mujahid daripada beliau (Ibnu Umar).

Menurut Al A'raj:

“Aku pernah bertanya Ibnu Umar berkenaan Solat Sunah Dhuha? Beliau menjawab: “Ia adalah bid’ah dan sebaik-baik bid’ah”

. (Fath al Bari: 3/52)

Sepertimana yang telah dinyatakan daripada Ibnu Umar tadi, membuktikan bahawa perkara-perkara yang baharu diwujudkan dalam ibadah memang berlaku dan diakui oleh pada sahabat RadiyaLlahu ‘anhum sendiri.

4. Adakah contoh para salafussoleh yang menyambut maulidul Rasul ?

Prof Dr Ali Jum’ah iaitu Mufti Mesir menjawab begini :
Telah menjadi kebolehan (keharusan) dan tradisi di kalangan salafussoleh sejak abad ke 4 dan ke 5 merayakan peringatan maulid nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam yang agung. Mereka menghidupkan malam maulid dengan pelbagai ketaatan dan ibadah pendekatan kepada Allah seperti memberi makan fakir miskin, membaca al Quran, berzikir, melantunkan puisi-puisi dan puji-pujian tentang rasuluLlah. Hal ini ditegaskan oleh sebilangan ulama seperti : Al Hafizh Ibnu Jauzi, Al Hafizh Ibnu Katsir, Al Hafizh Ibnu Dihyah, al Hafizh Al Hebatusi, Al Hafizh Ibnu Hajar dan Penutup Huffazh (para penghafaz hadith dalam jumlah yang sangat banyak) Jalaluddin Al Suyuthi.

5. Ulamak lain yang membenarkan ?

Dalam kitab al Madkhal, Ibnu Hajj menjelaskan dengan panjang lebar tentang keutamaan yang berkaitan dengan perayaan ini dan dia mengemukakan huraian penuh manfaat yang membuat lapang hati orang yang beriman.

Imam Jalaluddin al Suyuthi dalam bukunya ‘Husnul Maqshid fi Amalil Maulid’ memberikan penjelasan tentang Maulid Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam :

Menurutku, bahawa hukum dasar kegiatan maulid yang berupa berkumpulnya orang-orang yang banyak, membaca beberapa ayat-ayat al Quran, menyampaikan khabar-khabar yang diriwayatkan tentang awal perjalanan hidup Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan tanda-tanda kebesaran yang terjadi pada waktu kelahiran Baginda, kemudian dihidangkan makanan untuk mereka dan emreka pun makan bersama, lalu mereka pun berangkat pulang, tanpa ada tambahan kegiatan lain. Adalah termasuk bid’ah hasanah dan diberikan pahala bagi orang yang melakukannya. Imam para hafizh Abu Fadhl Ibnu Hajar telah menjelaskan dasar hukumnya sunnah.

Imam Abu Syamah berkata :
Suatu hal yang baik ialah apa yang dibuat pada tiap-tiap tahun bersetuju dengan hari maulud Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam memberi sedekah, membuat kebajikan, maka hal itu selain berbuat baik bagi fakir miskin, juga mengingatkan kita untuk mengasihi junjungan kita Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam membesarkan beliau, dan syukur kepada Tuhan atas kurniaanNya, yang telah mengirim seorang Rasul yang dirasulkan untuk kebahagiaan seluruh makhluk
(I’anatut Tholibin, juzu’ III, halaman 364) – Imam Abu Syamah adalah seorang ulamak besar Mazhab Syafie dan merupakan guru kepada Imam An Nawawi.

Ya Allah jadikanlah kami senantiasa menyintai Nabi Muhammad sallaLLahu ‘alaihi wasallam

Sumber rujukan :

1. Prof Dr Ali Jum’ah, Penjelasan Terhadap Masalah-masalah KhilafiahAl Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, .2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor

2. K.H Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama, Pustaka Aman Press, Kelantan, Malaysia

3. As Shiekh al Hafiz Abu al Fadl AbduLlah al Siddiq al Ghumari, Makna Sebenar Bid'ah Satu Penjelasan Rapi, Cetakan 2007, Middle East Global (M) Sdn. Bhd, Selangor.

4. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa'adi, Salah Faham Terhadap Bid'ah, al Bid'ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu'man, 2002, Kuala Lumpur


>>>
ngaji bareng bolo konco
http://surausmm.blogspot.com
>>>


>>>
pengen ngaji ?
 pengen denger nada ?
silahkan kunjungi
>>>

Nasyid MP3 Pilihan


E-Kitab

Koleksi Selawat & Zikir munajat


link download... ilmu sebelum amal...

  1. Mengapa Anda Menolak Bid'ah Hasanah
  2. Kasyfu Syubhat
  3. 6 Landasan Utama
  4. Sifat Wudhu Nabi
  5. Sifat Haji Nabi
  6. Sifat Sahabat Nabi
  7. Hukum Lagu dan Musik
  8. Ensiklopedia Albani
  9. Maqaalat Risalah Ilmiah Albani
  10. Tentang Keabadian Neraka
  11. Hukum Isbal
  12. Bagaimana Cara Beramar Ma'ruf Nahi Mungkar?
  13. Qiyam Ramadhan
  14. Hijab Pakaian Muslimah Dalam Shalat
  15. Panduan Hukum Islam Ilamul Muwaqiin
  16. Bekal Perjalanan Ke Akhirat [Zaadul Maad]
  17. Al-Itisham Imam Asy Syatibi
  18. Tuntunan Lengkap Mengurus Jenazah
  19. Sifat Sholat Nabi Lengkap Jilid 1
  20. Berlemah Lembut Sesama Ahlus Sunnah
  21. Bulughul Maram 1
  22. Kitab Tauhid
  23. Adab Az-Zifaf
  24. Risalah Baiat
  25. Ikhwanul Muslimin Atau Ikhwanul Muflishin?
  26. Nabi Isa Alahi Salam Vs Al-Masih Ad Dajjal
  27. Albani dan Manhaj Salaf
  28. Tasfiyah dan Tarbiyah
  29. Noktah Noktah Hitam Senandung Setan
  30. Minhaj Muwazanah
  31. Hukum Mengkafirkan Sesama Muslim
  32. Kumpulan Doa-Doa
  33. Salafi Digugat Salafi Menjawab
  34. Ringkasan Minhajus Sunnah Nabawiyyah
  35. Shahih Targhib Wa Tarhib 1
  36. Kemungkaran Dalam Kitab Berzanji Dan Maulid Nabi
  37. Jangan Dekati Zina
  38. Shahih Jami 1
  39. Prinsip Ilmu Ushul Fiqih
  40. Syaikh Albani Dalam Kenangan
  41. Pertanyaan Seputar Shalat Jumat
  42. Shalat Tarawih
  43. Hukum Orang Meninggalkan Shalat
  44. Syarah Prinsip Prinsip Dasar Keimanan
  45. Tanya Jawab Tentang Qadha Dan Qadar
  46. Bekal Bekal Dai
  47. Darah Kebiasaan Wanita
  48. Akhlak Mulia
  49. Hukum Cadar
  50. Mayat Tidak Mendengar
  51. No Smoking Tidak Merokok Karena Allah
  52. Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi
  53. Fiqih Wanita
  54. Fathul Baari jilid 3
  55. Fathul Baari jilid 1
  56. Meraih Kejayaan Ummat
  57. Risalah-Salafiyyah
  58. Qadha Dan Qadar
  59. Al Bidayah Wan Nihayah
  60. Panah Syaitan
  61. Nasehat Bagi Para Pemuda Ahlis Sunnah
  62. Menjawab Syubuhat-quburiyun
  63. Bekal Idul Adha
  64. Baiat Sunnah Vs Bidah
  65. Bekal Ramadhan
  66. Sikap Muslim Dalam Fitnah
  67. Adabul Majelis
  68. Inti Ajaran Islam
  69. Biarkan Jenggot Anda Tumbuh
  70. Membongkar Kedok Al Qordhowi
  71. Biarkan Syiah Bercerita Tentang Agama
  72. Bekal Pernikahan
  73. Pengagungan Terhadap Sunnah
  74. As Shahihah II
  75. Racun Fikih Waqi
  76. Dhaif Adabul Mufrad
  77. As Shahihah I Bagian 1
  78. As Shahihah I Bagian 2
  79. As Shahihah I Bagian 3
  80. As Shahihah I Bagian 4
  81. As Shahihah I Bagian 5
  82. Sorotan Total Ulama Salaf
  83. Jual Beli Yang Dilarang Dalam Islam
  84. Kekeliruan Pemikiran Sayyid Quthb
  85. Kumpulan 44 Fatwa
  86. Mungkinkah Syiah Sunnah Bersatu ?
  87. Bantahan Kitab At Tashiwirul Sayyid Qutbh
  88. Kisah Al Gharanik
  89. Minhaj Muwazanah
  90. Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij
  91. Kedudukan Jihad Dalam Syariat Islam
  92. Meraih Kemuliaan dengan Jihad bukan Kenistaan
  93. Tamaamul Minnatu Fii Ta'liiqi 'Alaa Fiqhus Sunnah Buku 1 Bag. A
  94. Tamaamul Minnatu Fii Ta'liiqi 'Alaa Fiqhus Sunnah Buku 1 Bag. B
  95. Tamaamul Minnatu Fii Ta'liiqi 'Alaa Fiqhus Sunnah Buku 2 Bag. A
  96. Tamaamul Minnatu Fii Ta'liiqi 'Alaa Fiqhus Sunnah Buku 2 Bag. B
  97. Zaadul Maad Bekal Menuju Ke Akhirat 2
  98. Zaadul Maad Bekal Menuju Ke Akhirat 3
  99. Zaadul Maad Bekal Menuju Ke Akhirat 4
  100. Zaadul Maad Bekal Menuju Ke Akhirat 5
  101. Ilmu Waris
  102. Hadits Sebagai Landasan Aqidah Dan Hukum
  103. Fiqh Dakwah
  104. Silsilah Hadits Shahih No.501-503
  105. Silsilah Hadits Shahih No.504-511
  106. Silsilah Hadits Shahih No.512-514
  107. Silsilah Hadits Shahih No.515-516
  108. Silsilah Hadits Shahih No.517-518
  109. HISNUL MUSLIM Panduan Do'a dan Dzikir
  110. Fikih Anak Muslim
  111. Panduan Shalat Lengkap
  112. Syarah Hadist Arba'in
  113. Ensiklopedia Kiamat
  114. Cinta & Benci Karena ALLAH
  115. Dan Berlinanglah Air Mata Taqwa
  116. Homoseks - Bahaya & Solusinya
  117. Koreksi Total Praktek Khutbah & Ceramah
  118. Musibah Terbesar Ummat Islam?
  119. Prioritas Ilmu & Amal
  120. Pengaruh Shalat Terhadap Iman dan Jiwa??
  121. Aqidah Shahih Penyebab Selamatnya Seorang Muslim
  122. Adzab & Nikmat Kubur
  123. Intisari Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah
  124. Surga, Neraka dan Calon Penghuninya
  125. Syarah Asma'ul Husna?
  126. Syarah Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah?
  127. Tatacara Wudhu Edisi Untuk Anak
  128. Tatacara Shalat Edisi Untuk Anak
  129. Larangan Shalat dimasjid Yang dibangun diatas Kubur
  130. Meneladani Manasik Haji dan Umrah Rasulullah
  131. Cara Bertaubat Menurut al-Qur'an dan Sunnah
  132. Fatwa-fatwa Jual Beli?
  133. Hak dan Kewajiban Muslimah
  134. Panduan Waqaf, Hibah & Wasiat
  135. Ensiklopedi shalat: menurut al-Qur'an dan as-Sunnah
  136. Syarah Doa Qunut
  137. Petunjuk Khutbah Jum'at??
  138. Do'a dan Wirid Mengobati Sihir dan Guna-guna??
  139. Dzikir Pagi Petang dan Sesudah Shalat Fardhu
  140. Kisah dajjal dan turunnya Nabi Isa Untuk membunuhnya
  141. Manhaj 'Aqidah Imam asy-Syafi'i
  142. 8 Kaidah Memahami Sunnah
  143. Menerapkan Syari'at Islam Pada Diri Sendiri dan Keluarga
  144. Manajemen Qalbu Para Nabi
  145. Syarah adab & manfaat menuntut ilmu
  146. Ruqyah Pengobatan Jasmani dan Rohani
  147. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1 Sampai 8
  148. Ensiklopedi Larangan
  149. Syarah Riyadhus Sholihin Jilid 1 Sampai 5 Syeikh Salim
  150. VONIS KAFIR DALAM TIMBANGAN ISLAM
  151. Keagungan Nilai-Nilai Tauhid Dalam Ayat Kursi
  152. MANASIK UMRAH & DO'A
  153. HAKIKAT TAWADHU' DAN SOMBONG
  154. FADHILAH SHALAWAT
  155. TAFSIR JUZ 'AMMA
  156. Surga, Neraka dan Calon Penghuninya
  157. PANDUAN PRAKTIS MANASIK HAJI & UMRAH
  158. Meneladani Rasulullah Dalam Berhari Raya
  159. Majelis Bulan Ramadhan
  160. Hal-Hal yang Wajib Diketahui Kaum Muslim
ngaji bareng bolo konco
>>>http://faisalchoir.blogspot.com/2012/02/halaman-download-iii.html
>>> http://markazsunnah.blogspot.com/ 

Kamis, 19 Desember 2013

Iman --> dibangun dengan sabar__syukur

sabar adalah keteguhan menjalani hidup didalam kebaikan,
syukur adalah mengisi kehidupan dengan amalan kebaikan...

iman adalah keyakinan, bahwasanya segala sesuatunya telah sesuai dengan aturanNYA, segala sesuatunya berdasarkan hukum sebab-akibat...


Sabar dan syukur adalah dua pilar iman yang akan mengantarkan kita sebagai hamba Allah yang paling mengagumkan.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,











ngaji bareng bolo konco document
>>> minbarindo.com
...Jagalah HATI, jangan engkau kotori...
jagalah lidah... berkatalah yang baik, atau lebih baik diam jikalau omongan kita hanya menyakiti...
...Dengan kebeningan HATI kita bisa menerima ilmu, karena ilmu adalah cahaya...